SENJA DI TEGALARUM

Sang Surya mulai beranjak ke peraduan…
Ayam jantan diikuti hewan-hewan lainnya pun ikut mengandangkan diri.
Semilir angin telah lama meninggalkan rumput yang bersahaja,
menyisakan hamparan hijau luas yang teduh

Kini, Sang Penerang alam telah berganti dengan lampu minyak yang mungil
sekedar menerangi serangga-serangga kecil yang berganti jaga dengan sang Ayam
di desaku, tempat ayah dan ibuku membesarkanku…

Sambil bertutur, mereka mengajarkan nilai-nilai kehidupan
Ketika manusia masih bersahabat dengan alam,
makan dan minum tersedia dengan limpahnya
sandang dan papan lambang kesederhanaan

Agar kami selalu ingat,
bahwa kehidupan bukanlah soal harta dan uang
bukan pula perihal harga diri dan kedudukan
Tapi hidup diukur sebagaimana ia dimaknai
oleh diri sendiri…
oleh orang-orang yang kita kasihi…

 

Bila kita merenungi puisi diatas, kita akan teringat kehidupan di desa Tegalarum saat kita masih kecil, saat penerangan masih memakai lampu teplok, karena saat itu listrik belum masuk desa.

Namun kini.. perkembangan pembangunan di desa Tegalarum sungguh pesat. Terutama betonisasi jalan, kini hampir 85 persen jalan di gang atau di kampung sudah di cor semua. Dan saat ini juga sedang melaksanakan pembangunan Kantor Desa nya yaitu pembangunan Pendopo kantor Desa Tegalarum, yang sudah tahap Finishing.

Tampak dalam gambar, remang disekitar kantor Desa, tampak begitu indah, sunyi, kelam …menghantarkan malam menggantikan siang.  Yang akan membawa kita untuk menapaki malam-malam indah, dalam merengkuh impian.